Berbagai jenis perhiasan bisa digunakan sekaligus di waktu yang bersamaan, seperti cincin, kalung, gelang, anting, dll.
Kalung tidak hanya berbahan emas, tetapi juga perak, titanium, bahkan ada yang dari plastik.
Pria dan wanita bisa memakainya. Lalu, bagaimana asal muasal kalung hingga umum digunakan pada saat ini? Berikut kami rangkum dari berbagai sumber.
1. Zaman Prasejarah
Masyarakat prasejarah sering menggunakan bahan alami seperti bulu, tulang, kerang dan bahan tumbuhan untuk membuat kalung.
Kalung pertama yang ditemukan terbuat dari bahan alami tersebut ditemukan di pemakaman Neolitik di Pegunungan Alpen sekitar 4200-3400 SM.
Kalung awal lainnya dibuat dengan logam bengkok, yang disebut torsi, yang dipakai oleh orang Celtic kuno di Irlandia dan Skotlandia antara 1800-1500 SM.
Pada Zaman Perunggu, perhiasan logam telah menggantikan perhiasan pra-logam. Kalung pertama kali digambarkan dalam patung dan seni Timur Dekat (Asia Barat) Kuno dan kalung yang terbuat dari logam mulia dengan batu sisipan dibuat di Eropa.
2. Peradaban Kuno
Di zaman Mesopotamia Kuno, segel berbentuk silinder sering digantung dan dipakai sebagai perhiasan.
Di zaman Babilonia Kuno, kalung terbuat dari batu akik, lapis lazuli, batu agate, dan emas, yang juga dibuat menjadi rantai emas.
Bangsa Sumeria kuno menciptakan kalung dan manik-manik dari emas, perak, lapis lazuli dan akik.
Pada Peradaban Mesir Kuno, sejumlah jenis kalung yang berbeda digunakan. Orang Mesir Kuno kelas atas akan mengenakan kerah dari bahan organik atau semi mulia dan berharga untuk tujuan keagamaan, perayaan, dan pemakaman.
Kerah ini sering dihiasi dengan semi mulia, kaca, tembikar, dan manik-manik berongga. Manik-manik yang terbuat dari berbagai bahan berharga dan semi mulia ini biasanya juga dirangkai untuk membuat kalung.
Emas yang dibuat menjadi bentuk tanaman, hewan, dan serangga juga umum digunakan. Selain itu, Jimat juga diubah menjadi kalung.
Lalu, pada zaman Yunani Kuno, kalung emas dibuat dengan hati-hati menggunakan repoussé dan anyaman kawat emas.
Seringnya, kalung ini dihias dengan roset berenamel berwarna biru atau hijau, berbentuk binatang, atau liontin berbentuk vas dengan pinggiran yang detail.
3. Periode 1400-1970
1400-1500
Selama masa Renaisans, pria dianggap fashionable jika mengenakan sejumlah rantai, plakat, dan liontin di leher mereka, dan pada akhir abad ke-15 pria terkaya akan mengenakan kerah penutup bahu yang besar dan bertatahkan permata.
Wanita biasanya mengenakan pakaian yang lebih sederhana, seperti rantai emas, manik-manik, atau mutiara yang digantungkan pada leher.
Lalu, pada akhir periode ini, potongan-potongan yang lebih berat dan lebih banyak dihiasi adalah hal yang biasa di kalangan orang kaya, khususnya di Italia.
1500-1600
Pada abad ini, tali panjang dari mutiara dan rantai dengan batu mulia biasanya sering digunakan.
Pada paruh kedua abad ini, perhiasan alami, seperti koral dan mutiara, digabungkan dengan enamel dan logam untuk membuat liontin yang rumit. Liontin cameo yang berhiaskan permata dan memiliki bingkai yang halus juga populer.
1600-1700
Beberapa pria pada periode Baroque sering menggunakan perhiasan, dan untuk wanita kalung yang digunakan lebih sederhana, seringkali berupa untaian mutiara sederhana atau untaian logam yang ditautkan dan dihias dengan batu kecil.
Kemudian pada abad ini, setelah penemuan teknik pemotongan berlian yang baru ditemukan, untuk pertama kalinya hal yang utama adalah permata itu sendiri, bukan pada pengaturannya, biasanya perhiasan disematkan pada pita berwarna beludru hitam.
1700-1800
Pada awal abad ini, gaya yang dominan adalah pita beludru dengan liontin yang digantung. Sedangkan, pada pertengahan abad ini kalung aneh berwarna-warni yang terbuat dari permata asli dan imitasi menjadi populer, dan pada akhir abad terlihat kebangkitan dari neo-Klasik.
1800-1870
Dalam istana Napoleon, gaya dari zaman Yunani kuno itu dianggap modis, dan wanita akan mengenakan untaian mutiara atau rantai emas dengan cameo dan permata.
Pada periode Romantik, kalung dianggap sangat mewah dan modis untuk mengenakan kerah ketat bertatahkan permata dengan liontin permata yang serasi terpasang dan mawar permata dengan mutiara.
1870-1910
Pada zaman pemerintahan Raja Edward VII, terlihat kebangkitan dari kalung mutiara, selain gaya kalung yang terbuat dari emas atau platinum dengan inset berlian, zamrud, atau ruby.
Lalu, gerakan Art Nouveau mengilhami desain simbolis dan abstrak dengan motif alam dan hewan. Bahan yang digunakan berasal dari kaca, porselen, perunggu, gading, mutiara, tanduk, dan enamel, dimana bahan tersebut tidak digunakan karena nilainya, tetapi karena penampilannya.
1910-1970
Brand fashion “Chanel” mempopulerkan perhiasan yang digunakan sebagai fashion. Gerakan Art Deco menciptakan perhiasan geometris tebal yang menggabungkan berbagai jenis permata dan baja.
Pada tahun 1960-an, perhiasan imitasi mulai banyak dipakai. Perhiasan dari bahan asli yang umum digunakan pada periode ini termasuk kalung perak yang sepenuhnya geometris atau berbentuk alami, dan permata berharga yang dipasang di kalung platinum atau emas yang terinspirasi dari zaman Kekaisaran Prancis.
Sumber : https://www.google.com/amp/s/www.pikiran-rakyat.com/belia/amp/pr-015790298/asal-usul-dari-perhiasan-kalung-manusia-prasejarah-pun-memakai-aksesori-ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar